Kejujuran
hendaknya tidak menjadi barang langka. Itulah dambaan setiap muslim yang
fitrahnya lurus. Jika kejujuran mewarnai kehidupan setiap muslim, niscaya
kebaikan akan menerangi dunia. Kaum Muslimin, pelaku kejujuran adalah
calon-calon penghuni surga, tempat kebahagiaan abadi yang jauh lebih baik dari
dunia.
Imam Ibnu al-Qayyim menempatkan sifat jujur dengan
perkataannya sebagai berikut, "Jujur adalah predikat bangsa besar.
Berangkat dari sifat jujur inilah terbangun semua kedudukan agung dan jalan
lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya
ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara
orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara
penghuni surga dengan penghuni neraka."
Bangsa besar manapun di dunia dan kapanpun, pasti
mengutamakan kejujuran. Kaum Muslimin mestinya lebih layak menyandangnya. Allâh
Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh
dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.[ at-Taubah/9:119]
Itulah tuntutan setiap fitrah manusia. Jujur!
Sebaliknya, setiap fitrah pasti membenci kedustaan dan perbuatan zhalim. Jika
dusta dan kezaliman mewabah, maka yang terjadi adalah musibah, di dunia dan di
akhirat.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dalam hadits
yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu , bersabda :
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ
يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ(وفى رواية لمسلم: إِنَّ الْعَبْدَ
لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ) حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى
إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ
الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ(وفى رواية لمسلم: وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ)
حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً. رواه البخاري ومسلم
“Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan,
dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang akan
bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang
benar-benar jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan,
dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan
bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar
tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta.” [HR. Bukhari dan Muslim. Lafal di
atas adalah lafal Bukhari]
Dalam riwayat lain pada Shahih Muslim, hadits diawali
dengan :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ…وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ…
Wajib bagi kalian untuk jujur……dan hati-hatilah, jangan
sekali-kali kalian dusta….
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang tambahan-tambahan riwayat tersebut dengan menukil perkataan para ulama, bahwa di dalamnya terdapat penekanan supaya seseorang bersungguh-sungguh untuk bersikap jujur. Maksudnya, berniat sungguh-sungguh dan benar-benar memperhatikan kejujuran. Sebaliknya harus berhati-hati jangan sampai dusta dan jangan sampai mudah berdusta. Sebab apabila seseorang mudah berdusta, maka ia akan banyak berdusta dan akhirnya dikenal sebagai orang yang suka berdusta. Jika seseorang terbiasa bersikap jujur, maka Allâh Azza wa Jalla akan menetapkannya sebagai orang yang benar-benar jujur. Sedangkan apabila seseorang terbiasa dusta, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menetapkannya menjadi orang yang dikenal pendusta.
Dusta adalah perbuatan terlarang dan haram, bahkan bisa
menjauhkan keimanan. al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni t membawakan riwayat
al-Baihaqi yang menurut beliau sanadnya shahih, dari Abu Bakar ash-Shiddîq
Radhiyallahu anhu , beliau (Abu Bakar) berkata :
اَلْكَذِبُ يُجَانِبُ اْلإِيْمَانَ
Dusta akan menjauhkan keimanan.
Selanjutnya al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil
perkataan Ibnu Baththal rahimahullah , "Apabila seseorang mengulang-ulang
kedustaannya hingga berhak mendapat julukan berat sebagai pendusta, maka ia
tidak lagi mendapat predikat sebagai mu’min yang sempurna, bahkan termasuk
berpredikat sebagai orang yang bersifat munafik. Karena itulah, setelah
mengetengahkan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu tersebut, Imam Bukhâri t melanjutkannya
dengan mengetengahkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang tanda-tanda
orang munafik."
al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah kemudian
menjelaskan, "Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang tanda-tanda
orang munafik yang dimaksud di sini mencakup perbuatan dusta, baik dengan
kata-kata maupun dengan perbuatan. Tanda pertama, dusta dalam perkataannya;
Tanda kedua, dusta dalam amanahnya; Tanda ketiga, dusta dalam janjinya.
Berikutnya Imam Bukhâri mengetengahkan hadits tentang jenis ancaman hukum di
akhirat bagi para pendusta, yaitu mulutnya akan disobek sampai ke telinga,
karena mulutnya itulah yang menjadi lahan kema’siatannya.
Imam Bukhari rahimahullah dalam masalah ini membawakan
tiga hadits berturut-turut :
Hadits pertama : Hadits Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, sudah dikemukakan di atas.
Hadits kedua : Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
Hadits pertama : Hadits Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, sudah dikemukakan di atas.
Hadits kedua : Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ،
وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ. رواه البخاري ومسلم
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga : Apabila berbicara,
ia dusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanat, ia
berkhianat.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Hadits ketiga : Hadits Samurah bin Jundub
Radhyallahu anhu , yaitu hadits yang berisi tentang jenis ancaman hukum di
akhirat bagi pendusta ialah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
رَأَيْتُ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي، قَالاَ: اَلَّذِى
رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ، يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ
حَتَّى تَبْلُغُ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. رواه
البخاري
Aku melihat dua orang (Malaikat), keduanya berkata:
"Orang yang engkau lihat disobek mulutnya hingga telinga, adalah seorang
pendusta. Ia berdusta dengan kedustaan, dibawanya kedustaan itu berkeliling
atas nama dirinya hingga mencapai ufuk, maka dibuatlah ia sebagai pendusta
sampai hari kiamat".[HR. Bukhâri]
Dengan demikian menjadi jelas, buah kejujuran adalah
kebaikan dan surga. Sedangkan akibat kedustaan dan penipuan adalah petaka dan
neraka. Dusta juga merupakan kezhaliman kepada diri sendiri, di samping juga
kezhaliman terhadap orang lain. Sementara zhalim kepada orang lain juga
terlarang.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits
qudsi bersabda, meriwayatkan firman Allâh Azza wa Jalla :
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي،
وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلاَ تَظَالَمُوْا. رواه مسلم
Wahai hamba-hambuKu, sesungguhnya Aku haramkan kezaliman
bagi diriku, dan Aku jadikan kezhal iman itu haram pula bagi antara kalian,
karena itu janganlah kalian saling menzalimi. [HR. Muslim].
Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan perbuatan zalim bagi para hambaNya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka saling menzhalimi. Maka haram bagi seseorang untuk berlaku zhalim kepada orang lain.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
mengingatkan dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اَلظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. رواه البخاري
ومسلم
“Prilaku zhalim itu akan berakibat kegelapan (bagi
pelakunya) pada hari kiamat.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Kezhaliman kepada orang lain dapat berbentuk pelanggaran
terhadap hak orang lain, baik pelanggaran hak darah, fisik, harta benda maupun
harga diri. Karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada
hari haji wada':
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ
بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى
بَلَدِكُمْ هَذَا. رواه البخاري ومسلم
“Sesungguhnya (saling menumpahkan) darah di antara
kalian, (saling melanggar hak) harta di antara kalian dan (saling melanggar)
kehormatan di antara kalian, adalah haram terjadi di antara kalian, sebagaimana
haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini.”[HR.
Bukhâri dan Muslim].
Seseorang harus terbebas dari perbuatan zalim agar
hidupnya selamat di akhirat kelak. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ
أَوْشَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ
دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ
مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ
صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. رواه البخاري ومسلم
“Barangsiapa yang memilki dosa kezaliman pada
saudaranya, baik berkenaan dengan kehormatan dirinya atau sesuatu yang lain,
maka hendaknya ia berusaha melepaskannya hari ini, sebelum datangnya hari
dimana tidak ada lagi uang dinar dan uang dirham (yaitu hari kiamat). (Jika
pada hari kiamat nanti kezaliman belum terlepas,) maka apabila ia memiliki amal
shaleh, amal shalehnya akan diambil (diberikan kepada saudaranya) sesuai dengan
kezaliman yang dilakukannya, dan apabila ia tidak memiliki kebaikan, maka
keburukan saudaranya akan diambil dan dipikulkan kepadanya.” [HR. Bukhari].
al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni rahimahullah
menerangkan, kezhaliman seseorang kepada saudaranya bisa berkait dengan
kehormatan diri atau persoalan lain, termasuk kezhaliman dalam masalah harta
benda orang lain dengan segala bentuknya. Begitu juga kezaliman yang berupa
mencederai, meskipun hanya berbentuk tamparan dan sebagainya.
Perbuatan dusta menyangkut lahan yang sangat luas.
Penipuan-penipuan menyangkut pekerjaan, harta benda, perdagangan dan lain
sebagainya adalah pelanggaran terhadap hak orang lain. Karena itu seharusnya
setiap Muslim berusaha sungguh-sungguh menghindari dusta, sebagaimana
ditekankan dalam hadits-hadits di atas.
Demikianlah, seharusnya kepribadian asli seorang Muslim adalah pribadi yang adil dan jujur. Sedangkan dusta dan khianat bukan sifat seorang Mu’min. Ibnu Hajar rahimahullah membawakan hadits riwayat al-Bazzâr, dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu yang dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ
الْخِيَانَة وَالْكَذِب.
“Seorang mu’min dapat terbentuk wataknya berdasarkan
watak apa saja kecuali khianat dan dusta.”
Artinya, seorang mu’min bisa terbentuk wataknya menjadi
berwatak apa saja selain khianat dan dusta.
Artikel : almanhaj.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar