Perilaku para istri dijaman sekarang kebanyakan tapi
tidak semua melenceng dari syariat islam. hal ini mungkin dikarenakan berbagai
sebab diantaranya karena kurangnya ilmu ,nilai keimanan ,karena contoh dari
sinetron yang kebanyakan tak sesuai dengan syariat islam ,karena pergaulan yang
salah.
Berikut ada 10 kesalahan istri yang umum di masyarakat
kita:
1. Menuntut keluarga yang
ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan
yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam
novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah
pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang
problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak
dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak
siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia
selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan
gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika
ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak
sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat
kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak
taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan
suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada
kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
- Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat
tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
- Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin
hubungan gelap dengan pria lain.
- Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke
dalam rumah.
- Lalai dalam melayani suami.
- Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang
bukan tempatnya
- Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk,
mencela, dan mengejeknya.
- Keluar rumah tanpa izin suami.
- Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan
ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam
kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun
susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini
sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan
suami.
3. Tidak menyukai
keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh
perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh
sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga
kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan
memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu
mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan
cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani
menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu
suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja
mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau
membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga
suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih
menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan
berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam
sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang
tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri,
demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan
salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika
istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah
cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak menjaga
penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan
mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak
bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun
teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di
luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak
peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya:
terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya
mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri,
jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan
waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan
kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan
kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi
keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan.
Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha
secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan
istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih
kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya
lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan
ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami
keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang
tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang
telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah
kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Qs.Ibrahim :7 )
6. Mengingkari kebaikan
suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”
Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan
seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang
ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka.
Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika
para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari
Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka
mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya.
Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri
melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan
mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian
penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang
diriwayatkan Bukhari (5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah
dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam
neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi , apa dan
bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah.
Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami,
mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang
telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat,
satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari
belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan, masih ada
waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu
sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai
saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan
menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di
dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan
suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah,
seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan
kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita
lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi
diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita
kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai
dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah
suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya
suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit
kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali
seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut
kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya
semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwasanya
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia
dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari
kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar
bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal),
orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah
palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar
rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak
sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung
jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya
terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati
rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum
mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami
tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di
kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu
ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang
istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada
di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak
mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah
menjadi cemburu yang tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap
suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi
hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang
dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah
cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini
adalah cemburu yang tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada
fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan
kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara
melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga
perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya
sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan
ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap
ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga
lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara
memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah,
menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.
Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang terkadang
dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang
pada setiap istri. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah,
warohmah.
amin…
Semoga bermanfaat
-Akbar 86-