Selasa, 11 November 2014

Ibarat Makan Daging Saudara Sendiri

Buruk sangka tidak hanya menjerumuskan si pelaku ke kubangan maksiat, tapi juga menyeret komunitas masyarakat ke gerbang perpecahan. Jalinan ukhuwah terancam putus, persatuan pun akan terberai.
Suatu ketika, dua orang wanita yang sedang menjalankan ibadah puasa menghadap Rasulullah saw. Begitu tiba di hadapan beliau, sambil memegangi perut menahan sakit, keduanya memohon kepada Rasulullah saw agar dibolehkan berbuka. Menanggapi permintaan dua wanita itu, Rasulullah menyodorkan sebuah ember kecil di hadapan keduanya seraya bersabda, "Muntahkan apa yang ada dalam perut kalian!"
 
Seketika, dua wanita itu memuntahkan darah segar! Para sahabat yang menyaksikan kejadian itu tersentak kaget. "Wahai Rasulullah, apa yang sebenarnya terjadi terhadap dua wanita ini?" tanya salah seorang dari mereka.

"Memang,  mereka sedang berpuasa, menahan diri dari segala hal yang dihalalkan saat tidak berpuasa. Tapi, mereka membatalkannya dengan hal-hal yang diharamkan. 
 
Keduanya sering menggunjingkan aib orang lain. Mereka ibarat memakan daging saudaranya sendiri yang sudah meninggal," jawab Rasulullah.
 
Puasa berarti menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, maksud menahan diri di sini, bukan semata berarti menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan ketika tidak berpuasa, seperti makan, minum dan melakukan hubungan seksual. Tapi juga, menahan diri dari segala hal yang diharamkan, seperti ghibah, mengadu domba, mengejek dan berbagai macam perbuatan buruk lainnya, (Ahkaam ash-Shyiaam wa Falsafatuhu fii Dhau'i al-Qur'an wa as-Sunnah, Dr. Mustafa as-Siba'i).
 
Bahkan, menahan diri dari segala hal yang diharamkan ini harus lebih diutamakan, dan dihindari sejauh mungkin. Karena, di antara tujuan puasa adalah melatih diri untuk selalu mengerjakan perbuatan baik dan menghindari tindakan jahat. Hanya saja, begitu banyak orang yang lalai sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga saja. 
 
Di antara perbuatan buruk yang sering merusak nilai ibadah para shaaimiin adalah ghibah. Menurut istilah, pengertian ghibah adalah menceritakan perihal saudara muslimnya ketika dia tidak ada tentang hal-hal yang tidak ia sukai.
Bentuk ghibah
Ghibah tidak terbatas pada ucapan semata, tapi juga setiap gerakan, isyarat, sindiran, umpatan, tulisan dan segala hal yang bisa dikatagorikan hinaan.
  • Fisik, seperti menceritakan kekurangan saudaranya yang Muslim dengan mengatakan dia buta, pincang, pendek dll. Suatu ketika Aisyah mengatakan kepada Rasulullah, bahwa Shafiyyah itu tubuhnya pendek. Rasulullah bersabda, "Engkau telah mengatakan satu kalimat yang bila dicampur dengan air laut, pasti laut itu akan keruh," (HR Tirmidzi).
  • Cacat agama, seperti pengkhianat, fasik dll
  • Meniru gerakan dan cara berbicara
  • Ikut mendengarkan orang yang mengghibah sama dengan pelakunya, (Ihyaa' Ulumiddin, al-Ghazali).
           
Ghibah yang dibolehkan
  • Pengaduan terhadap kezaliman. Orang yang dizalimi boleh mengadukan kepada penguasa, hakim atau orang yang mempunyai kekuasaan untuk menyadarkan orang yang zalim. Hal ini didasarkan kepada firman-Nya, "Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan terus terang) kecuali orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," (QS al-Nisaa: 148).
  • Meminta pertolongan untuk mengubah kemunkaran dengan menceritakan kepada orang yang mampu mengubahnya menjadi kebenaran. Misalnya, orang yang melihat pemabuk. Ia boleh menceritakannya kepada wali pemabuk tersebut untuk dinasihati agar sadar.
  • Meminta fatwa kepada mufti tentang penzaliman seseorang terhadapnya.  Sebagaimana yang dilakukan Hindun ketika ia mengadukan perihal kekikiran suaminya kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, "Ambillah sesuatu sekadar untuk memenuhi kebutuhanmu dan anakmu dengan cara yang makruf," (HR Bukhari Muslim).
  • Untuk menjaga kaum muslimin agar tidak terjerumus ke dalam jurang kesesatan. Misalnya, mengungkapkan kelemahan perawi hadits palsu atau saksi palsu. Hal ini dibolehkan berdasarkan ijma', bahkan menjadi wajib ketika dibutuhkan. Pun dibolehkan menceritakan perihal seseorang yang ingin melamar seorang wanita. Fatimah binti Qais pernah mendatangi Rasulullah saw dan menanyakan tentang Muawiyah dan Abu Jahm. Rasulullah saw menjawab, "Adapun Muawiyah adalah orang yang tidak punya. Sedangkan Abu Jahm adalah orang yang ringan tangan," (HR Muslim).
  • Dibolehkan juga mengungkapkan kelemahan budak kepada orang yang ingin membelinya, dengan mengatakan, "Budak saya ini suka mencuri dan sering melakukan perbuatan haram lainnya."
  • Dibolehkan juga menceritakan tentang keburukan seorang penguasa kepada atasannya. Dengan tujuan, sang atasan menasihatinya agar tidak menyimpang dari kebenaran. Tentu saja tindakan ini tidak disampaikan di khalayak ramai dan benar-benar dengan tujuan untuk mengembalikannya kepada kebenaran. Bukan lantaran iri atau tidak senang dengan orang yang bersangkutan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi para sahabat Nabi, ulama atau da'i. Mereka tidak boleh dicela dan dijuluki yang bukan-bukan.
  • Jika seseorang melakukan tindakan kejahatan secara terang-terangan, seperti minum khamar, berbuat bid'ah, boleh menceritakan perbuatannya kepada orang lain agar berhati-hati terhadap mereka. Kalau tidak, bisa menyebabkan umat tersesat lantaran mengikuti kejahatannya.
Faktor penyebab ghibah
 
Tidak mengadakan konfirmasi dan penjelasan. Memutuskan suatu persoalan itu buruk atau menghakimi seorang individu itu jahat tanpa mencari fakta yang kuat merupakan cela berbuat ghibah. Karenanya, al-Qur'an mengajarkan agar tidak menerima begitu saja berita yang didengar. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu," (QS al-Hujuraat: 6).
 
Kemarahan seringkali membuat orang melakukan ghibah. Apalagi jika orang tersebut tidak mempunyai landasan agama dan moral yang kokoh. Dengan mudah lidahnya bergerak, mengumpat dan mencela orang yang menyebabkan kemarahannya. Karenanya Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa berusaha meredam amarah. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang meredam kemarahannya sedangkan ia mampu melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya di hadapan para pemuka makhluk. Bahkam, Dia memilihkan untuknya bidadari, kemudian mengawinkan dengannya sebanyak yang dia kehendaki," (HR Abu Daud).
 
            Seringkali ketika marah, seseroang tidak melampiaskannya begitu saja. Namun mengendapkannya ke dalam batin sehingga berubah menjadi gumpalan dengki, iri, hasud dan berbagai macam penyakit  hati lainnya. Penyakit inilah yang lambat laun akan mendorongnya mencela, dan menceritakan aib saudaranya. Dan, inilah bentuk ghibah yang sesungguhnya. 
 
Sifat serakah lantaran ingin meraih jabatan, iri karena kelebihan nikmat yang dimiliki orang lain, dan hasud, berharap kenikmatan saudaranya hilang lalu beralih ke tangannya, merupakan cela terperosoklnya seseorang ke perbuatan ghibah. Berbagai macam sifat buruk itu akan menghabiskan kebaikan seperti api melahap kayu bakar, (HR Abu Daud).
 
Orang yang merasa dirinya mempunyai kedudukan tinggi dan menganggap dirinya lebih dari orang lain dalam segala hal akan mudah terseret kepada tindakan meremehkan dan mencela orang lain. Dengan mudah ia akan mengatakan, "Si Fulan tidak bisa berbuat apa-apa. Si Fulan bisanya hanya duduk dan memakan gaji buta saja!" Dan berbagai macam umpatan lain yang  keluar dari lidahnya. Padahal, ia sendiri tidak berbuat apa-apa untuk memperbaiki saudaranya tersebut, (Aafaatun 'alath Tariiq, Dr Sayyid Muh. Nuh).
 
Hal lain yang bisa menjerumuskan orang ke lembah peng-ghibah-an adalah humor dan senda gurau. Disadari atau tidak, ketika bergurau orang sering kali membicarkan aib saudaranya. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan kelemahan orang lain. Dia lupa, tindakan tersebut sama artinya dengan memakan daging saudaranya sendiri yang sudah meninggal. Dan tindakan itu jelas akan menggiringkan ke jurang neraka yang dalamnya tak terkirakan. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya orang yang mengatakan sesuatu yang menurutnya tidak ada apa-apa (bergurau), dan tidak mengakibatkan apa-apa, ternyata menyebabkannya tergelincir ke neraka sejauh perjalanan tujuh musim," (HR Bukhari Muslim).Wal 'iadzu billah.

Ternyata “Tidur nyenyak, bisa mencerdaskan”

 Dari waktu ke waktu, para ilmuwan menyingkap banyak penemuan baru terkait rahasia tidur. Boleh jadi, penemuan paling penting dalam masalah ini adalah, ketika mereka memperoleh informasi tentang adanya aktifitas besar otak manusia saat tidur. Dari sana mereka juga menyimpulkan, manusia bisa memanfaatkan waktu tidurnya untuk mempelajari banyak hal baru. Informasi ini penting diketahui oleh mereka yang ingin menghafal Al Quranul Karim. 

Penelitian Mutakhir Seputar Tidur
Para ilmuwan di Institut Max Planck Jerman mendalami masalah cara penyimpanan informasi serta meaknisme kerja otak manusia. Hasil penelitian yang disebarkan di Majalah Nature Neuroscience, November 2006, itu membuka jendela mengetahui bagaimana cara belajar dan mengingat yang dimiliki manusia karena mereka mendapatkan fakta bahwa otak manusia bekerja aktif saat tidur. 

Hasil kajian ini juga menyebutkan bahwa ada berbagai informasi yang tersimpan dalam suatu area otak, yang disebut hippocampus, di mana informasi itu tersimpan hanya dalam waktu singkat. Tapi Hippocampus lalu bergerak dalam beberapa hari, khususnya saat tidur nyenyak, hingga  sampai lapisan luar otak di area yang disebut neocortex. Neocortex kemudian menjadi tempat penyimpanan informasi dalam waktu panjang atau lama. Para ilmuwan seperti Thomas Hahn, Mayank Mehta, Bert Saknamnn, menyimpulkan pentingnya tidur untuk aktifitas belajar dan mengingat, karena mereka menyaksikan bagaimana aktifitas besar yang dilakukan sel syaraf saat seseorang dalam kondisi tidur.

Tidur Nyenyak, Bisa Mencerdaskan

Keterangan gambar 1 :
Kajian Amerika menegaskan bahwa tidur nyenyak menyedikitkan masalah over obesitas terutama untuk anak-anak. Dalam penelitian yang dilakukan di Universitas Evanston di Elinwi, disebutkan setiap jam tambahan akan menyedikitkan problema berat badan berlebih dan kegemukan. Emily Snile seorang pakar yang juga memimpin tim penelitian ini mengatakan, “Sedikit tidur berpengaruh pada hormon yang memunculkan rasa lapar, khususnya untuk anak-anak.”
 
Tidur Bermanfaat Kuatkan Daya Ingat
Kelompok yang paling mengambil manfaat dari penelitian ini adalah para pelajar, dan sudah tentu para penghafal Al Quran. Para pelajar yang kerap mengatakan bahwa mereka mudah lupa informasi yang telah mereka pelajari di malam ujian. Mereka lalu memilih antara tidur atau menambah jam waktu mengulang pelajaran. Para peneliti menemukan bahwa tidur sangat membantu menciptakan perubahan yang diinginkan terkait hubungan dengan sel-sel syaraf dan  otak. Adanya hubungan-hubungan ini, memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan otak untuk mengontrol sikap, belajar dan memperkuat daya ingat.

Berdasarkan hal itu, para peneliti percaya bahwa hasil penelitian mereka memberi bukti kuat bahwa tidur membantu pikiran untuk melakukan pekerjaan dengan baik, dan mengubah pengalaman ke dalam memori, serta menunjukkan pentingnya metode ini dalam persiapan menghadapi ujian. Selain itu, mereka juga menyingkap hasil temuan lain yang mengkaitkan adanya perubahan dalam otak yang berhubungan dengan tidur nyenyak, itu melebihi tidur ringan. Penemuan ini lalu mendorong para peneliti untuk menjawab pertanyaan yang rumit: Mengapa kita tidur?

sel saraf listrik di otak

Keterangan gambar 2 :
Ini merupakan gambar salah satu sel saraf listrik di daerah otak yang bertanggung jawab untuk penyimpanan memori yang disebut hippocampus dan kurva merah menunjukkan aktivitas listrik di wilayah tersebut. Sedangkan kurva biru adalah aktivitas listrik di lapisan luar otak saat yang sama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa informasi baru yang diperoleh seseorang pertama kali disimpan di bagian otak yang disebut "Hippocampus". Pada akhir hari, otak tidak menghapus informasi ini dan melupakannya, tetapi informasi itu akan dipanggil kembali dan disimpan di dalam otak. (Max Planck Institute for Medical Research).
 
Profesor Michael Strykr dari Universitas California mengatakan, ”Jika seorang pelajar mengulang pelajarannya dengan baik hingga ia kelelahan lalu tidur, maka otak akan terus bekerja  saat tidur dengan cara yang sama! Di sini kita mengingat ayat Allah yang agung, yang mengingatkan kita tentang hal ini sejak zaman tak satupun manusia di bumi ini mengetahui pentingnya dan keajaiban tidur.

Allah swt berfirman,
وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
[الروم: 23]
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar Ruum : 23)
Tidur adalah keajaiban yang nyata. Para ilmuwan benar-benar sangat takjub dan terheran-heran dengan rahasia ilmiyah di balik tidur ini. Andai mereka melihat dan memperhatikan Kitabullah niscaya akan hilanglah keheranan mereka..
Tidur, Memantapkan Memori yang telah Terhapus
Para peneliti dari Universitas Chicago menegaskan bahwa ada sejumlah fakta yang dilupakan orang saat melewati hari yang sibuk mungkin akan mengingat kembali apa yang ia kerjakan  jika ia tidur setelah itu dalam kondisi baik. Para peneliti meminta relawan untuk mengingat kata-kata sederhana, dan menemukan bahwa banyak memori mereka gagal menyimpan informasi kata-kata itu di sore harinya. Tapi keesokan harinya mereka bisa tidur dengan nyenyak dan mampu mengingat kembali informasi yang telah mereka ingat dengan sangat lebih baik.
Ini berarti bahwa otak mampu menyimpan memori yang hampir terlupakan melalui waktu malam. Dan ketika diperlukan dari otak untuk mengingat sesuatu yang awalnya diingat dalam kondisi tidak stabil, yang berarti sudah dilupakan oleh orang yang bersangkutan, lalu pada tahap tertentu, otak menempatkan kembali informasi itu secara lebih stabil dan konsisten. Tapi para peneliti percaya bahwa adalah mungkin untuk kembali ke memori ketidakstabilan menjadi stabil lagi ketika diperlukan. Ini berarti bahwa ingatan dapat termodifikasi dan tersimpan lagi ketika berhadapan dengan pengalaman baru. Masalah ini mungkin menjadikan orang terkejut. Tapi, apakah alam ini yang sistemnya merancang sistem yang tepat untuk tidur? Apakah keadaan malam yang gelap, yang membuat makhluk hidup cenderung untuk tidur, karena tahu bila tidur berguna untuknya?  Kita tidak memiliki jawaban kecuali firman Allah swt yang menyebutkan,
(وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ)
[الذاريات: 21]
”Dan dalam diri kalian, apakah kalian tidak memikirkan.” (QS. Adz Dzariyat : 21)
Tidur Nyenyak, Bisa Mencerdaskan
Keterangan Gambar 4 :
Perangkat gambar diambil scan resonansi magnetik. Kita melihat dalam gambar sebelah kiri otak tertidur pada awal tidur dan tidak muncul dalam aktifitas apapun. Setelah ia mendengar informasi saat tidur, informasi itu direspon oleh otak dan otak mulai aktif (lihat area merah di sebelah kanan).  Di sini para ilmuwan menegaskan bahwa otak bekerja selama tidur dan menerima informasi lalu menyimpannya. Karenanya, saya menyarankan siapapun yang ingin menghafal Al Quran dengan memanfaatkan teori atau metode mendengarkan Al Quran di saat tidur.
Tidur Mengembangkan Potensi dan Keterampilan
Terkait dengan masalah tidur, para peneliti kini juga mendapatkan banyak fakta ilmiyah lain. Misalnya, mereka mengatakan bahwa  tidur nyaman, yang dilakukan dengan konsisten, bisa membina dan mengembangkan skill individu, bakat dan keterampilan, khususnya yang berkaitan dengan revitalisasi memori otak dan juga menstimulasi pengembalian memori untuk mengingat apa yang terjadi di masa lalu, bahkan mengingat kembali pemandangan.
Menurut Dr Stefan Fischer, pemimpin tim penelitian: Tidur berguna bahkan sangat diperlukan untuk mencapai tingkat keterampilan yang lebih baik. Neal Standley, mengatakan, ” Studi baru menegaskan pentingnya tidur dalam kehidupan manusia dan adalah salah pendapat orang yang mengatakan bahwa tidur hanyalah aktifitas sia-sia dan membuang-buang waktu.”
Allah swt berfirman,
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
[الفرقان: 47]
”Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al Furqan : 47)
Ayat ini menegaskan manfaat tidur. Sekali lagi, ayat ini diturunkan di zaman tak ada orang yang meneliti tentang tidur, dan kebanyakan orang mengangap bahwa tidur hanyalah kebiasaan yang tak berguna. Tapi Al Quran telah membicarakan hal ini, dengan menjadikan tidur sebagai salah satu keajaiban dan salah satu bukti kekuasaan Allah swt. Inilah salah satu kemukjizatan Al Quran.
Tidur Nyenyak, Bisa Mencerdaskan
Keterangan Gambar 5:
Para ilmuwan Jerman tertarik meneliti fenomena tidur. Mereka mencoba mengambil kesimpulan dari eksperimen yang mereka lakukan. Mereka mengatakan: ”Perubahan pada otak mempengaruhi kreatifitas dan pengembangan kemampuan dalam proses yang dinamakan gelombang lambat atau slow waves, saat seseorang tidur nyenyak dan terjadi selama empat jam pertama dari siklus tidur. Penelitian Jerman juga menjelaskan, daya ingat yang akan hilang bersamaan dengan pertambahan usia yang terkait dengan adanya  gangguan dan kondisi kurang tidur, khususnya tidur nyenyak yang sangat diperlukan untuk proses mempertajam memori.
——————–
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

Meningkatkan Keimanan dengan Gerhana


Salah satu sifat orang mukmin adalah iman dengan hal yang ghaib. Rasulullah kabarkan tentang siksaan Allah swt. Gerhana di antaranya untuk menunjukkan kekuasaan Allah swt. dalam menyiksa:
Asal-usul Gerhana dalam Islam
Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah swt. untuk membuat takut manusia. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah Taala. Keduanya tidak mengalami gerhana disebabkan matinya seseorang, tapi Allah Taala ingin menjadikan hamba-Nya merasa takut.

Bahwa matahari dan bulan, walaupun lebih besar daripada manusia, tapi sangat takut kepada Allah Taala. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana disebabkan kematian atau kelahiran seseorang. Keduanya adalah tanda kekuasaan Allah Taala. Karena jika Allah Taala menampakkan dirinya kepada sesuatu, maka suatu itu akan tunduk kepada-Nya.” Dikisahkan, seorang tabi’in bernama Thawus menangis ketika terjadi gerhana. Beliau mengatakan, “Matahari dan bulan lebih takut kepada Allah Taala daripada kita.”
Bagaimana Mengetahui Tanda Kekuasaan Allah Taala?
Tanda kekuasaan Allah swt. berarti sesuatu yang menunjukkan bahwa Allah Taala itu  ada dan berkuasa. Sebenarnya matahari dan bulan setiap hari adalah tanda kekuasaan Allah Taala. Tapi karena manusia sudah terbiasa, maka tidak terdorong untuk merenungkannya. Allah Taala berfirman:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al-Furqan: 61].
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaasin: 37-40].
Manusia biasanya hanya akan merenung kalau ada hal yang baru, sedangkan yang biasa dilihatnya akan lewat begitu saja sebesar apapun itu.
Dua Macam Kejadian di Alam Semesta Ini
Kejadian alam terbagi menjadi dua; yang terjadi sesuai dengan sunnatullah yang dikatahui oleh manusia, dan yang terjadi di luar sunnatullah yang diketahui manusia. Allah Taala berkuasa melakukan hal yang di luar kebiasaan. Hendaknya manusia takut dengan kekuasaan tersebut.
Oleh karena itu dulu sebelum ada ilmunya, umat Islam diperintahkan shalat memohon perlindungan kepada Allah swt. Karena bisa saja terjadi hal yang membahayakan mereka:
“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” [Al-Israa: 59] Selain shalat, umat Islam juga dianjurkan banyak bersedekah, berdzikir, dan banyak melakukan kebaikan.
Kalau sekarang, setelah ada ilmu tentang fenomena ini, shalat sebagai tanda keyakinan kita kepada kekuasaan Allah swt.
Fenomena di Langit Bukan Pengaruh Kejadian di Bumi
Fenomena alam langit itu bukanlah pengaruh kejadian di bumi. Tapi karena kekuasaan Allah Taala. Tidak seperti keyakinan beberapa kelompok. Saat itu gerhana terjadi bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putera Rasulullah saw. Beberapa orang mengatakan, “Terjadi gerhana matahari karena wafatnya putera Rasulullah saw.” Maka Rasulullah saw. mengatakan:
“Gerhana bukan karena kematian seseorang.” Walaupun ada beberapa riwayat menyebutkan kejadian-kejadian yang menujukkan bahwa alam akan mendukung umat Islam dalam perjuangannya:
  • Banjir pada kaum Nabi Nuh as.Laut terbelah (menyelamatkan Nabi Musa as. dan Bani Israil) dan kembali bersatu (menghancurkan Fir’aun dan bala tentaranya). Ayam terlambat berkokok ketika Fir’aun hendak mengejar Musa as. dan Bani Israil.

  • Langit yang enggan menangis ketika Fir’aun mati: “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.” [Ad-Dukhan: 29].

  • Matahari menunda tenggelamnya ketika Yusya’ bin Nun melawan Jabbarin di Palestina. Singa tunduk dan mengantarkan seorang sahabat bernama Sufainah ra. Terjadi badai ketika perang Ahzab, dan sebagainya.

Islam, Agama Ilmu yang Menentang Khurafat
Hadits Rasulullah saw. di atas menunjukkan Islam adalah agama yang menentang khurafat yang tidak berlandaskan ilmu. Ajaran Islam sesuai dengan ilmu. Namun tidak boleh menjadikan ilmu sebagai ukuran. Islam sempurna; ilmu masih berkembang. Kalau Islam sesuai dengan ilmu, maka semakin berkembang keilmuan manusia hendaknya semakin kuat iman mereka kepada agama Islam.
Orang yang menyembah matahari hendaknya mengetahui kelemahan matahari; yang bisa terbit dan juga bisa tenggelam.
Rasulullah saw. menganjurkan shalat gerhana. Di antara hikmahnya supaya orang-orang tidak sibuk melihat gerhana. Diketahui bahwa ketika terjadi gerhana matahari, terpancar sinar yang membahayakan mata, dan bisa menyebabkan kebutaan.
Di antara khurafat orang tentang gerhana:
  • Ada tokoh besar yang meninggal.
  • Orang China meyakini bahwa seekor naga yang memakan matahari. Kalau terjadi, orang-orang China menabuh bedug dan melemparkan sesuatu ke langit untuk menakut-nakuti naga. Setelah takut, naga akan mengeluarkan dan melemparkan kembali matahari.
  • Akan terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena ada keyakinan kedekatan matahari dengan para dewa.

Sesuai dengan perhitungan, Rasulullah saw. shalat kusuf pada tanggal 29 Syawwal 10 Hijriah (632 M). Saat itu beliau memanjangkan shalatnya. Diriwayatkan bahwa dalam shalat, beliau melihat surga dan neraka. Beliau berkeinginan mengambil satu tangkai anggur surga untuk ditunjukkan kepada para shahabat. Tapi kemudian beliau melihat penduduk neraka dan merasa takut sehingga tidak jadi mengambilnya. Setelah shalat beliau menyampaikan khutbah:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah Taala. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah Taala, ucapkan takbir, dirikan shalat, keluarkan sedekah. Wahai umat Muhammad, demi Allah, Allah Taala paling cemburu jika ada hamba-Nya yang melakukan zina. Wahai umat Muhammad, jika kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit bicara dan banyak menangis.”
Fenomena Alam dan Keshalihan Manusia
Fenomena gerhana menunjukkan bahwa kedamaian hidup manusia hanya bisa didapatkan dengan tunduk kepada hukum Allah Taala.
Makhluk Allah swt. ada dua macam. Pertama, alam semesta selain manusia, mereka semua beriman kepada Allah swt. dan tunduk menaati semua hukum-Nya. Allah Taala berfirman:
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” [Al-Hajj: 18].
Kedua, Manusia. Mereka terbagi menjadi dua; beriman (sebagian kecil) dan tidak beriman (sebagian besar). Iman dan ketundukan kepada hukum Allah swt. ini mempunyai efek kepada langsungnya kehidupan:
Semua alam semesta beriman: makanya hidup teratur, damai, tidak ada kerusakan. Sedangkan manusia terbagi menjadi dua; manusia yang taat kepada hukum Allah swt. akan hidup dengan baik secara jasmani dan ruhaninya, dan manusia yang tidak taat kepada hukum Allah swt. akan hidup penuh dengan ketimpangan; sakit jasmani, ruhani, kehidupan sosial, dan lain sebagainya. Bahkan kerusakan alam pun ditimbulkan kejahatan yang dilakukan oleh manusia.
Hal ini dikuatkan dengan hubungan antara ibadah dan fenomena alam. Shalat magrib saat matahari tenggelam; shalat subuh ketika matahari fajar; shalat dhuhur ketika matahari tergelincir; puasa Ramadhan ketika hilal Ramadhan terbit; puasa bidh ketika bulan ada di tengah peredaran; shalat istisqa’ ketika hujan tidak turun-turun; dan sebagainya.
Ibadah-ibadah itu disyariatkan untuk terjadi keserasian antara gerak alam semesta dengan gerak manusia. Ketika gerak itu seirama, maka akan terjadi kedamaian. Ketika gerak itu tidak seirama, maka akan terjadi tubrukan, benturan, dan kerusakan.
Terakhir, fenomena gerhana memberikan sedikit gambaran tentang apa yang akan terjadi pada hari kiamat. Allah Taala berfirman:
“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” [Al-Qiyamah: 7-12].
Wallahu A’lam. (dakwatuna)

Rabu, 05 November 2014

Waktu Tidur Yang Tidak Diperbolehkan Dalam Islam?

Tidur adalah keadaan istirahat alami pada manusia dan juga binatang. Manusia  menghabiskan sepertiga dari waktu hidupnya dengan tidur. Tidur bukan saja karena kelelahan tetapi juga karena kebiasaan dan pola hidup

Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan. yaitu :

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh
Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).

Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).

Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”

Sumber : eramuslim.com